Craft & Wedding5 Hal yang Perlu Kamu Tahu tentang Perjanjian Pranikah - Sagu Hati

April 2, 20190

Menikah bukan saja tentang penyatuan du a insan untuk hidup bersama dalam ikatan janji suci, tetapi juga bagaimana menjalani kehidupan berumah tangga yang sakinah , mawardah, dan warrahmah (samara). Salah satu indikator keluarga dan rumah tangga bahagia adalah kala masing-masing pasangan benar-benar memahami apa yang menjadi hak dan kewajibannya, contohnya terkait aspek harta.

Terkait pemisahan harta suami dan istri  juga sebetulnya diatur dalam UU Perkawinan tahun 1974 di mana berisi:

  • Harta dan utang suami istri sebelum menikah adalah milik masing-masing
  • Harta dan utang suami istri setelah menikah adalah milik bersama, kecuali ada perjanjian sebelumnya.

Begitu pula jika merujuk pada hukum Islam, di mana suami memiliki kewajiban menafkahi  istri dan anak-anaknya, sementara istri (meski memiliki penghasilan) tidak wajib membiayai kebutuhan rumah tangga dan apabila  turut membiayai jatuhnya menjadi sedekah.

Perjanjian pranikah mungkin dianggap bukan menjadi budaya timur, karena terkesan hitung-hitungan. Namun, perjanjian pranikah dinilai mampu melindungi harta kekayaan berdua, seandainya terjadi perceraian atau kematian salah satu pasangan. Misalnya bagi yang memiliki pasangan pengusaha, biasanya sebuah laporan keuangan bisnis akan mencakup harta, modal, dan utang.

Nah, perjanjian misalnya,  dibuat untuk melindungi pasangan dari beban utang usaha pasangan satunya kelak. Untuk itulah, pentingnya keterbukaan pasangan terhadap kondisi keuangan masing-masing (harta dan utang). Beberapa selebriti di Indonesia yang menerapkan perjanjian pra nikah, di antaranya Nagita Slavina dan Raffi Ahmad serta Chelsea Olivia dan Glenn Alinskie.

Lalu, apa saja yang perlu kamu tahu tentang perjanjian pra nikah? Berikut rangkumannya:

1. Dasar

Seperti yang sudah disebut sebelumnya, perjanjian pranikah merupakan kesepakatan pribadi antara calon suami dan istri tentang pemisahan harta dan hak asuh anak apabila terjadi perselingkuhan, perceraian, atau kematian. Setiap negara memiliki hukum masing-masing terkait perjanjian pranikah ini.

2. Keadilan

Di banyak negara, perjanjian harus dibuat dengan adil. Maka, tiap pasangan wajib terbuka atas aset yang dimiliki, serta memiliki masing-masing pengacara.

3. Tunjangan ke mantan istri

Dalam banyak kasus, perjanjian pranikah biasanya mencakup perihal tunjangan ke mantan istri. Jika dalam perjanjian, tunjangan tersebut dibebaskan atau tak dibahas sama sekali, maka pasangan yang bercerai tidak dapat menuntut tunjangan dari pasangan satunya.

4. Tanggung jawab terhadap anak

Perjanjian pranikah juga bisa mengatur pertanggungjawaban terhadap biaya hidup dan pendidikan anak apabila terjadi perceraian.

5. Hingga maut memisahkan

Apakah perjanjian pranikah disiapkan saat terjadi risiko perceraian saja? Tentu tidak ada pasangan menikah yang ingin bercerai, tetapi kalau kematian pasti datang bukan? Nah, banyak perjanjian juga dibuat untuk memisahkan aset pasangan guna diwariskan kepada siapa pun yang mereka mau.

Misalnya, jika suami meninggal dunia, maka  bisa dibuat perjanjian bahwa sebagian asetnya  akan disumbangkan pada anggota keluarga lain atau badan amal. Sedangkan, sang istri yang masih hidup hanya mendapatkan secukupnya.

====

 

Dalam menjalani kehidupan, salah satunya pernikahan tentu akan selalu ada potensi risiko yang terjadi ke depannya. Tak heran jika mantra jadul berbunyi “Hope for the best, but plan for the worst” terkadang memang benar adanya. Tapi, apakah perjanjian tersebut hanya bisa dibuat sebelum menikah?

Berdasarkan pasal 29 ayat (1) UU No 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan sebelumnya memang membatasi bahwa sebuah perjanjian pranikah pisah harta hanya bisa dibuat sebelum atau pada saat perkawinan berlangsung.

Namun, dengan keluarnya Putusan MK Nomor 69/PUU-XIII/2015, perjanjian pranikah tidak lagi dimaknai hanya sebagai perjanjian sebelum menikah saja (prenuptial agreement), namun juga bisa dibuat setelah pernikahan berlangsung (postnuptial agreement).

Pada dasarnya, perjanjian pranikah harus disetujui oleh kedua belah pihak tanpa ada paksaan. Namun, perjanjian pun bersifat fleksibel dan bisa diubah selama masih dalam persetujuan suami dan istri. Nah, apakah menurut kamu perjanjian pranikah itu penting?

Silahkan dipertimbangkan dan  konsultasikan dengan praktisi hukum yah 🙂

*Diolah dari berbagai sumber/Forbes

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

error: Content is protected !!
WhatsApp chat