Esteem & Belonging5 Tipe Konflik Jelang Menikah Ini Bikin Stres, Siapkah? - Sagu Hati

May 16, 20170

Siapa yang tak bahagia menyambut hari pernikahan? Menikah adalah harapan setiap orang yang semestinya hanya terjadi sekali seumur hidup.  Maka itu, penting memastikan jika resepsi yang digelar nanti mampu meninggalkan kesan mendalam bagi pasangan mempelai serta kerabat yang hadir.

Namun, bukan jadi hal baru jika di masa prewedding alias menjelang menikah, beragam perasaan bercampur aduk, dari mulai bahagia, haru, stres, bahkan kesal. Pernikahan jelas bukan acara pribadi mempelai. Tak hanya di Indonesia, bahkan di luar negeri pun, pernikahan bisa menjadi urusan keluarga besar.

Masalah konsep, lokasi, biaya, jumlah tamu yang diundang, bahkan sampai soal katering dan tetek bengek lainnya.Tak heran, jika begitu banyak pembahasan yang berpotensi menimbulkan konflik menjelang persiapan momentum bahagia itu. Maka, siapkan mental anda dan pasangan untuk kemungkinan ini:

Menganggap si calon mempelai pria tak berbuat apa-apa

Resepsi pernikahan atau walimah di Indonesia identik dengan hajatan mempelai wanita. Maka, tak heran jika banyak resepsi yang digelar cenderung dibebankan ke pihak keluarga mempelai wanita untuk urusan biaya. Namun, di masa sekarang tampaknya hal ini sudah tak berlaku lagi. Malahan, banyak pasangan yang merasa malu jika harus dibiayai oleh orang tua. Makanya, banyak di antara mereka yang lebih memilih pesta sederhana, namun dengan biaya pasangan mempelai sendiri.

Ketika orang tua ingin mengundang banyak kolega mereka

Menyelenggarakan sebuah resepsi pernikahan, apalagi di kota besar tentu saja membutuhkan biaya yang tak sedikit. Melibatkan orang tua memang menjadi hal lumrah untuk sebuah pesta impian. Nah, kadang di sinilah drama berpotensi dimulai..jreng..jreng…

Orang tua yang terlibat terlalu besar dalam penyelenggaraan resepsi biasanya menginginkan para kerabat mereka juga diundang, padahal anda dan pasangan lebih menginginkan pesta yang lebih private. Atau, bahkan sebaliknya, orang tua ingin pestanya sederhana, sementara, mempelainya maunya macam-macam. Diskusi dan memberi pengertian tentu adalah jalan terbaik 🙂

Ketika selera konsep nikah berbeda

Buat anda yang berasal dari suku berbeda, terkadang masalah konsep tema pernikahan juga bisa jadi perkara. Jika anda lebih memilih konsep private party, tentu gaya tradisional tidak akan cocok. Di Indonesia, menghilangkan tradisi prosesi menjelang atau saat resepsi masih dianggap tabu, bahkan hingga kini. Maka, solusinya pastikan anda berdiskusi dengan keluarga besar, termasuk masalah anggaran jika tradisi ini tetap dijalankan atau dihilangkan.

Calon mertua terlalu mencampuri, meski tidak menyumbang dana sepeser pun

Nah loh, ini masalah yang pelik agaknya, namun tak jarang terjadi. Meski, tak menyumbang dana, sikap calon mertua yang terlalu mencampuri tentu akan membuat stres calon mempelai. Kondisi ini pun berpotensi jadi konflik serius antar keluarga jika saja win win solution tak berhasil dicapai. Tetap bersabar, jaga etika dan komunikasikan terus dengan pasangan anda mengenai sikap orang tua yang seperti ini.

Orang tua tidak setuju pada pilihan hiburan saat resepsi

Dalam resepsi pernikahan, musik kerap menjadi bagian penting untuk memeriahkan suasana. Dalam sebuah resepsi, tentu pula banyak konsep yang diusung tak hanya terkait tema saja, namun juga konsep yang sesuai dengan tata krama agama tertentu, misalnya konsep Islami. Dalam konsep Islami yang fanatik, ruangan antar tamu wanita dan laki-laki harus dipisah, serta tidak diperkenankan ada hiburan seperti musik.

Nah, sekarang tinggal bagaimana anda dan pasangan bisa menerima dengan lapang dada dan menciptakan suasana harmonis di tengah perbedaan-perbedaan itu. Tujuannya satu, agar anda bisa hidup bahagia bersama dia yang dicintai 🙂

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

error: Content is protected !!
WhatsApp chat