Esteem & Belonging7 Gejala Bahwa Kamu Menjalin Cinta dengan Seorang Sosiopat - Sagu Hati

May 24, 20180

Menjalin hubungan cinta dengan seorang sosiopat? Mungkin-kah mampu bertahan? Namun, sebelumnya kamu perlu mengenali dulu tanda-tanda salah satu ganguan mental ini secara umum. Selama ini, mungkin banyak masyarakat  lebih mengenal istilah psikopat yang ditujukan bagi orang-orang penderita kelainan jiwa. Namun, ternyata ada juga istilah yang tak kalah populer belakangan terakhir, yakni sosiopat.

Berdasarkan buku berjudul Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders yang dijadikan pegangan medis oleh para psikiater, psikopat terbagi menjadi dua kategori. James Fallon seorang ahli saraf di University of California yang mempelajari bidang psikopat secara khusus menjelaskan adanya perbedaan makna dari psikopat dan sosiopat.

Seperti dilansir laman Yahoo Canada, menurut Fallon, katagori pertama dikenal sebagai primary psychopaths atau psikopat primer dan yang kedua dikenal dengan sebutan secondary psychopaths atau psikopat sekunder, yang dapat disebut dengan sosiopat.

Baca juga: Menjalin Hubungan dengan Pria Lebih Muda, Kenapa Nggak?

Seperti yang dijelaskan dalam laman Psychology Today, psikopat digambarkan sebagai orang yang memiliki kelainan jiwa di mana bisa menampilkan diri mereka secara normal, dan menawan, namun di sisi lain mereka tidak memiliki hati nurani dan rasa empati. Sedangkan, sosiopat dianggap tak terlalu berbahaya karena, meski mereka termasuk orang yang temperamen, mereka masih bisa merasakan stres, malu, atau cemas seperti orang normal.

Seorang psikolog Harvard sekaligus penulis The Sociopath Next Door,  Dr. Martha Stout, mengemukakan, memang tak semua sosiopat adalah kriminal berbahaya, namun sikap anti sosial yang tertanam tentu akan menyulitkan kehidupan mereka sendiri, termasuk dalam hal pertemanan dan romansa. Berikut adalah beberapa cirinya agar kamu juga bisa membantu mereka untuk jadi pribadi lebih baik;

1. Punya ego berlebih

cinta
sumber: HRblog

The Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders (DSM-V) mencatat bahwa sosiopat mendapati perasaan berlebih dalam dirinya. Mereka kerap menjadi narsisik esktrem, dengan memiliki rasa hak dirinya yang besar. Bahkan, psikolog klinis Seth Meyers mengatakan, jika para sosiopat cenderung menyalahkan orang atas kegagalan mereka.

2. Berbohong dan memiliki perilaku manipulatif

cinta
sumber: curejoy

Sosiopat juga kerap menggunakan manipulasi dalam kehidupan sehari-hari. Berbohong dianggap sebagai sebuah upaya untuk mengakali orang lain. Dr Stout bilang,  kadang mengatakan kebohongan lebih besar, bagi mereka akan mendatangkan efek lebih besar pula.

3. Cenderung minim rasa empati

cinta
sumber: rubbishworthy.ml

Menurut seorang penderita sosiopat, bernama M.E Thomas, sekaligus penulis buku Confessions Of A Sociopath. banyak di antara penderita sosiopat yang tidak benar-benar memiliki emosi seperti orang umumnya, sehingga menjadi sesuatu yang terasa asing bagi mereka.

4. Tak punya banyak teman

cinta
sumber: psychologytoday

Psikoterapis Ross Rosenberg mengemukakan, sosiopat cenderung tidak memiliki banyak teman yang nyata, kecuali kala mereka sedang membutuhkannya saja atau bisa jadi teman-temannya hanya terhubung lewat sebuah asosiasi.

5. Berkharisma, namun hanya di permukaan saja

cinta
sumber: businessinsider

Lagi-lagi menurut Ross Rosenberg, seorang sosiopat merupakan ahli muslihat dan selalu memiliki agenda rahasia. Mereka pintar menyamar, bahkan bisa menjadi seorang yang karismatik dan ramah hanya untuk mendapatkan apa yang mereka mau.

6. Hidup dengan “prinsip kesenangan”

cinta
sumber: businessinsider

“Jika hal tersebut terasa baik, mereka mampu menghindari konsekuensinya. Mereka menjalani hidup di jalur cepat yang ekstrim, mencari stimulasi, kegembiraan, dan kesenangan dari manapun yang mereka bisa dapatkan,” tulis Rosenberg di Human Magnet Syndrome.

7. Mengabaikan norma-norma sosial

cinta
sumber: anymanfitness

“Mereka biasanya melanggar aturan dan hukum, karena mereka tidak percaya aturan masyarakat juga berlaku untuk dirinya,” kata psikiater Dr. Dale Archer dalam blog Psychology Today

 

sumber: huffingtonpost

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

WhatsApp chat