Esteem & BelongingBenarkah Daya Tarik Fisik Menggiring Pernikahan Bahagia? - Sagu Hati

November 3, 20180

Tentu hal manusiawi, jika siapa pun pastinya menginginkan pasangan yang memiliki fisik menawan. Daya tarik fisik kerap menjadi penyaring bagi kebanyakan orang yang menunjukkan bahwa calon pasangannya sehat, cocok secara usia, dan mampu bereproduksi (Weeden & Sabini, 2005).

Kala masuk pada tahapan perjodohan pun, banyak riset menunjukkan, bahwa daya tarik fisik memang mendominasi di mana kita kerap mengejar sebuah hubungan dengan orang yang menarik (Luo & Zhang 2009; Kurzbhan & Weeden, 2005; Thao et al,. 2010).

Dalam banyak penelitian, pria dikenal lebih mementingkan daya tarik fisik dibandingkan wanita. Namun, dalam praktiknya, daya tarik fisik juga sama pentingnya bagi wanita. Maka, tak heran jika daya tarik fisik menjadi aspek paling penting, dibandingkan aspek terkait lainnya seperti, kepribadian, pendidikan, dan kecerdasan.

Namun, ketika memasuki biduk rumah tangga, suka atau tidak kita pun akan menikah dengan seseorang yang wajahnya akan menua, bahkan keriput sudah muncul di bagian-bagian tubuh tertentu.

Salah satu kajian yang dipublikasikan oleh The Journal of Personality & Social Psychology yang dipimpin psikolog Andrea Meltzer, mencoba menggali lebih dari 450 pengantin baru yang telah membina rumah tangga selama kurang lebih 4 tahun. Mereka ditanya “apakah daya tarik fisik memengaruhi kepuasan dalam hubungan pernikahan?”

Hasil dari penelitian pun mungkin tak begitu mengejutkan bahwa sebagian besar suami yang memiliki istri cantik puas dengan hubungan pernikahan yang dijalani. Sementara, para istri yang memiliki suami berpenampilan menarik, tidak merasa terlalu berpengaruh terhadap kepuasan pernikahan.

Studi serupa juga pernah dilakukan oleh Relationship Institute The University California of Los Angeles (UCLA)  tahun 2008 lalu dengan temuan yang kurang lebih sama. Para peneliti pun berteori bahwa para pria cenderung merasa “beruntung” dengan menikahi istri yang berpenampilan menarik di mana mereka juga cenderung lebih bahagia dan selalu ingin memenuhi kebutuhan sang istri. Para suami yang bahagia pun mampu mendorong pernikahan yang lebih bahagia pula secara keseluruhan.

Wanita lebih butuh pasangan supportif

bahagia
sumber: businessinsider

Hasil riset soal body image itu pun kemudian menggiring pada suatu kecenderungan bahwa banyak wanita yang mencari pasangan seumur hidup sehingga fisik bukan lagi jadi aspek paling penting. Para peneliti pun banyak menyimpulkan, jika pria lebih menempatkan “kecantikan” sebagai nilai utama pasangannya, sedangkan wanita lebih tertarik pada pasangan supportif.

Meski demikian, para peneliti juga mengakui, bahwa daya tarik fisik memang subyektif, tapi banyak kajian yang meletakkan standar universal, seperti mata yang lebar, “baby face”, wajah simetris, serta ukuran pinggul dan pinggang ideal.

Seorang profesor ekonomi perilaku program Media Arts & Sciences MIT dan Sloan School Management Dan Ariely pun mengatakan, pria begitu sensitif pada daya tarik fisik wanita. Sedangkan, wanita cenderung sensitif pada tinggi dan penghasilan sang pria yang juga pernah terlibat dalam penelitian serupa.

Kendati begitu, peneliti dari University of Tennessee James McNulty mengungkapkan, jika studi soal pentingnya daya tarik fisik ini memang berlaku pada tahapan awal, namun untuk kualitas hubungan pernikahan yang langgeng dan kuat bagaimana pun juga masih misteri.

Andrea Meltzer sendiri juga berpendapat bahwa ada baiknya para pengantin baru sadar memantapkan diri untuk menguatkan kualitas hubungan di mana tujuan pernikahan adalah untuk menciptakan kondisi saling membutuhkan selamanya.

Sudah siapkah?

 

Huffingtonpost/LiveScience

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.