Craft & WeddingCustom souvenir yang Kini Menembus Batasan Budaya dan Religi - Sagu Hati

January 18, 20180

Tak bisa kita mungkiri, jika kegiatan memberikan hadiah satu sama lain antar kerabat di berbagai negara dunia, sudah tak lagi dipandang sekedar ritual belaka, melainkan sebagai simbol kebersamaan. Meski, memberi kado identik dengan perayaan keagamaan tertentu, namun praktik menggunting, melipat, dan membungkus kado harus diakui kini telah melampaui batasan doktrin budaya maupun religi. Inilah zaman milenia. Memberikan sebuah hadiah menjadi pengalaman yang esensial bagi banyak orang. Tak hanya itu, namun sebagai cara banyak orang pula membingkai obyek yang merepresentasikan sisi istimewa mereka.

Bahkan sebagian orang menyamakan praktik membungkus kado ini dengan cara mengubah bingkai yang disepuh menjadi sebuah seni lukis atau mengubah kotak perhiasan menjadi sebuah harta karun yang suci. Ternyata, membungkus sebuah obyek yang biasa mampu mentransformasinya menjadi sesuatu yang luar biasa.

custom souvenir
sumber: reeceandchols

Praktik bungkus membungkus kado ini pertama kali berkembang di Eropa dan Amerika Serikat saat era Victorian, di mana kala itu sangat lazim mempresentasikan tisu atau busur panah yang dibungkus rapi. Lalu, pada tahun 1917, saat musim liburan, sebuah toko di Kansas, Missouri mengubah tisu menjadi kertas berpola untuk dibuat menjadi amplop. Kala itu, amplop-amplop ini cepat sekali terjual.

Sejak tahun 1970-an, banyak ahli yang berupaya menjabarkan fenomena ritual membungkus dan saling memberikan hadiah ini. Namun, pada tahun 1990, seorang antropolog James Carrier menambahkan dimensi vital atas studi ritual saling memberikan kado itu. Menurutnya, membungkus sebuah obyek menjadi indah adalah upaya banyak orang untuk mengubah sesuatu yang impersonal menjadi lebih personal. Secara ritual, juga sebagai upaya mengubah komoditas yang tak dikenal menjadi sesuatu yang lebih istimewa. Misalnya saja, iPhone merupakan obyek yang bisa dibeli oleh siapa pun, namun ketika dibungkus lebih spesial, iPhone “I got for you”.

Kajian tersebut memang kurang lebih menyinggung pula tradisi membungkus kado di era kekinian masyarakat Barat. Namun, praktik membungkus kado ini sendiri sebetulnya memiliki sejarah panjang dan makna yang dalam. Kertas telah lama digunakan untuk membungkus sebelum banyak digunakan untuk menulis.

custom souvenir
sumber: todaynewsonline

Di era China kuno, sekitar 2000 tahun lalu, kertas banyak digunakan untuk melindungi material berharga serta menaruh daun teh dan obat-obatan. Tak hanya China, namun sekitar seribu tahun lalu, membungkus hadiah juga menjadi perhatian sentral di budaya Jepang. Indonesia, juga menjadi salah satu negara di Asia di mana masyarakatnya juga gemar berbagi, termasuk dalam tiap momentum spesial.

Beginilah caranya sebuah obyek yang mati, mampu membangkitkan spirit dan emosi di antara sesamanya kala dibungkus dan dikemas istimewa. Sebuah buku, misalnya, tanpa kemasan, tentu adalah buku yang dengan mudah bisa kita temui di mana saja. Bahkan, memberi sebuah pita cantik pada sebuah toples selai pun, menandakan itulah hadiah toples yang istimewa.

Yang penting bukan soal harga, produk atau merk, tapi apakah mereka rela memakai dan merawat apa pun yang kamu berikan?

Sumber: sapiens.org, “Why do we wrap presents?”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

error: Content is protected !!
WhatsApp chat