Craft & WeddingMengintip Isi Kotak Seserahan dalam Adat Jawa - Sagu Hati

May 9, 20190

Dibandingkan budaya rata-rata di Barat, prosesi pernikahan di Indonesia terbilang lebih kompleks lantaran tak hanya melibatkan kedua pasangan saja, melainkan juga keluarga besar. Seperti kita tahu, di negara-negara Barat, tidak lazim digelar ritual lamaran resmi seperti halnya yang dilakukan di Indonesia.

Sedangkan, prosesi lamaran di Indonesia akan dimulai dengan permintaan formal oleh keluarga calon mempelai pria (bersama keluarga) yang berkunjung ke rumah mempelai wanita. Kala kedua pihak menyetujui, barulah bisa dilakukan ke jenjang yang lebih serius yakni, acara pernikahan itu sendiri.

Selama prosesi lamaran, kita juga biasa mengenal istilah peningset/hantaran/seserahan. Dalam budaya Jawa sendiri, seserahan menyimbolkan kemampuan calon mempelai pria yang nantinya menjadi suami untuk menyokong kebutuhan materi calon istrinya. Memang, adat ini tak pelak masih merepresentasikan dominannya budaya patriarki di Indonesia di mana suami selalu berperan sebagai pencari nafkah dan istri sebagai ibu rumah tangga.

Lalu, apa saja isi paket seserahan yang biasa diberikan kedua belah mempelai:

  • Perlengkapan ibadah/mukena/sarung menyimbolkan bahwa pernikahan mereka akan menghargai nilai-nilai ajaran agama.
  • Cincin kawin, biasanya saling diberikan antara pihak calon mempelai pria kepada wanita, begitu pula sebaliknya. Hal ini juga menyimbolkan harapan agar pernikahan yang dilakukan bisa langgeng, layaknya lingkaran cincin yang tak bertepi.
  • Perhiasan yang selalu membuat seseorang bercahaya, selain itu mahar jenis juga mudah dijual kembali, untuk menyokong ekonomi seandainya dibutuhkan ketika berumah tangga.
  • Perlengkapan pakaian, biasanya berupa batik, scarf, atau bahkan tas. Hal ini menyimbolkan bahwa setelah menikah, kedua calon mempelai tetap memelihara hubungan baik dengan keluarga
  • Buah-buahan, biasanya pisang, anggur, jeruk, dan apel yang melambangkan harapan agar kehidupan rumah tangga calon mempelai selalu segar
  • Makanan tradisional, biasanya beras ketan yang melambangkan harapan bahwa kedua calon mempelai akan terus bersama, dan cinta mereka pun terus “melekat”.
  • Perlengkapan kosmetik bertujuan agar calon mempelai wanita selalu terlihat memukau.
  • Sepatu yang melambangkan kesiapan kedua calon mempelai untuk menjalani “hidup bersama”

===

Meski tradisi ini masih begitu relevan hingga kini, menjalankan prosesi formal tersebut tentu akan kembali pada pilihan masing-masing. Calon mempelai berhak untuk memilih mengikuti atau tidak, meskipun keputusan biasanya akan dipengaruhi oleh pihak keluarga. Maka sebagai rasa hormat kepada keluarga, memang tak ada salahnya menjalani prosesi tersebut, anggap saja sebagai momentum untuk saling mengakrabkan diri bersama keluarga.

Selain, alasan filosofis dan ideologis dibalik praktek prosesi lamaran serta menyerahkan mahar/peningset, secara praktis mahar juga memiliki fungsi lain, yakni membantu kondisi finansial pasangan yang baru berumah tangga. Jadi barang mahar (yang dinilai berharga tinggi) pun bisa dijadikan sebagai “kebutuhan darurat”.

 

Diolah dari sumber: Globalindonesiavoices/anthropapers.wordpress

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

WhatsApp chat