Esteem & BelongingTakut Merasa Sepi Ternyata Picu Hubungan Tak Sehat - Sagu Hati

October 29, 20180

Pernahkah terbayang apa hal yang bakal kita alami ketika menginjak usia lanjut kelak? Mungkinkah masih ada pasangan yang setia menemani? Anak-anak yang selalu mengisi hari-hari persis kala kita membesarkan mereka?

Di Jepang, ada sebuah fakta sosial yang cukup mengejutkan, di mana para lansia di negeri Sakura tersebut justru sengaja melakukan tindakan kriminal, seperti mencuri agar masuk penjara. Meski, kehilangan kebebasan, para lansia itu justru merasa bahwa penjara layaknya surga lantaran mereka dapat memperoleh tempat tinggal, layanan kesehatan, makan tiga kali sehari, dan yang lebih penting adalah teman untuk diajak berbicara.

Data World Economic Forum (WEF) bahkan menyebut, jika ada potensi 6 juta orang mengalami ancaman kesepian di Jepang. Kondisi atas perasaan terisolasi dan bosan itu muncul  dari setengah penduduk Jepang yang berusia di atas 65 tahun. Tak cuma Jepang, persoalan kesepian ini juga menjadi ancaman dan masalah sosial di beberapa negara dengan populasi non produktif, contohnya saja Inggris.

Ya, di beberapa negara tertentu masalah kejiwaan dan mental merupakan masalah sosial yang cukup serius, sampai-sampai Perdana Menteri Inggris Theresa May menunjuk Tracey Crouch, Menteri Olahraga dan Komunitas Sipil untuk memimpin kelompok antar departemen guna membuat kebijakan terkait “masalah kesepian” ini. Kini, ada potensi lebih dari 9 juta orang di Inggris dilaporkan sering merasa kesepian.

Persoalan kesepian ini memang tak bisa dianggap remeh, lantaran begitu banyak penelitian melaporkan dampak negatif yang timbul akibat rasa sepi, misalnya saja meningkatkan risiko seseorang jatuh sakit, berkurangnya imunitas tubuh, bahkan meningkatkan kematian lebih cepat hingga 26 persen.

Berbeda dengan orang muda yang cenderung lebih mampu mengalihkan rasa sepi dengan melakukan hal-hal produktif yang lebih fokus pada pertumbuhan diri, merasa sepi di usia senja tidak semudah itu dilalui.  Peneliti dan penulis buku Old People Underworld Yuki Shinko pernah mengatakan kepada National Public Radio, bahwa munculnya kerusakan moral dalam diri lansia di antaranya dipicu oleh rasa gelisah, stres, dan marah yang butuh penyaluran.

Orang muda pun rentan

sepi
sumber: pxhere

Meski demikian, bukan berarti pula orang muda akan lebih aman untuk tidak didera rasa sepi, lantaran survei yang disajikan oleh BBC Radio baru-baru ini justru menyatakan sebaliknya. Kesepian secara intensif juga banyak dialami orang muda. Survei yang dilakukan terhadap 55.000 orang tersebut menemukan, bahwa usia 16-24 tahun kerap mengalami rasa sepi lebih dari kelompok usia lainnya.

Dalam hasil survei, dua dari lima kelompok usia tersebut merasakan sepi lebih sering dibandingkan 29 persen orang usia 65-74 dan 27 persen lansia usia 75 atau lebih tua. Fakta lainnya, mereka yang kerap merasa sepi lebih sering meluangkan waktu di media sosial. Survei tersebut dikembangkan oleh para akademisi dari University of Manchester, Brunei University London, dan the University of Exeter.

Dikutip The Telegraph, presenter All In The Mind BBC, Claudia Hammond yang menyajikan survei tersebut mengatakan, bahwa ia percaya riset tersebut menunjuk pada “epidemik kesepian” yang menantang asumsi Inggris sebagai negara dengan penduduk pensiunan terisolasi juga hidup bersama orang muda yang cenderung melek teknologi dan media sosial.

Akhirnya, banyak orang muda mencari pelarian lewat media sosial. Mereka lebih terkoneksi dibanding sebelumnya. Namun, hal ini bukannya tak membawa masalah baru. Ketika seseorang merasa sepi, melihat foto-foto orang lain yang kerap menampilkan hal-hal menyenangkan tidak akan membantu diri pulih dari perasaan terisolasi tersebut.

Profesor Louise Arseneault dari Kings College London, yang telah lama mengkaji masalah kesepian, mengatakan ia tidak terkejut dengan hasil penemuan itu.

“Saya percaya data ini. Selama ini kita terlalu berharap lebih bahwa remaja dan orang muda selalu mampu mengatasi masalah atau perasaan terisolasi tersebut. Kita melihat mereka suka berpesta atau terkoneksi secara sosial, namun sebenarnya tak sesederhana itu. Selama ini kita memang abai,”katanya.

Sedangkan, Profesor Pam Qualter dari University of Manchester, yang membantu merampungkan riset tersebut, mengungkapkan fakta tentang orang muda cenderung lebih bisa didera rasa sepi terkait pula isu bagaimana kemampuan seseorang untuk belajar mengatasi.

“Mereka mungkin tidak tahu di usia berapa kira-kira mereka mampu mengatasi masalah ini. Berdasarkan pengalaman hidup dan seiring berjalannya waktu, tentunya seseorang akan menyadari bahwa rasa sepi tidak akan terjadi selamanya. Orang muda cenderung merasa sepi bisa jadi karena itulah waktu pertama kalinya mereka mengalami segala macam masalah dan tantangan seorang diri,”ujarnya.

Bahkan riset dari Spielmann dan kolega (2013) menemukan bahwa ketakutan akan rasa sepi dan sendiri juga bisa memengaruhi hubungan percintaan seseorang. Seorang wanita yang merasa takut sendiri cenderung lebih tergantung pada hubungan romansa yang tak bahagia dibandingkan para wanita yang tidak masalah berstatus single.

Sedangkan, saat proses pencarian cinta, orang-orang yang merasa takut sendiri juga mengindikasikan ketertarikan pada lebih banyak calon pasangan potensial. Tentu tidak salah, namun ketakutan akan kesendirian dapat menggiring pada minimnya hubungan romansa yang ideal dan bahagia lantaran tidak lagi menjadi selektif.

Faktanya, tak ada manusia yang tidak punya masalah di muka bumi ini, termasuk masalah yang mungkin terlihat sepele, kesepian. Tapi, bagaimana jika kita lebih banyak menggunakan waktu untuk menemukan jati diri? Apa yang membuat kita tertarik, talenta, passion, mimpi, keinginan, dan perasaan?

Begitu banyak hal yang bisa ditanam untuk pengembangan diri. Tak perlu khawatir atas pikiran orang lain. Bagaimana cara pandang kita, itulah yang akan membuat kita merasa lebih baik atau buruk atas diri sendiri.

Sumber: Psychologytoday/TheTelegraph/WEF

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.