Esteem & BelongingTerjebak Nostalgia: Perlukah “Meromantisasi” Masa Lalu? - Sagu Hati

May 9, 20180

“Aku seorang karyawan dan ingin resign lalu menjadi guru untuk anak-anak kurang mampu. Impianku terbentur oleh larangan istriku yang mengatakan bahwa kami nggak bisa hidup dengan gaji seorang guru. Lantas, aku jadi rindu dengan mantanku yang punya hidup sederhana dan gak matre”.

Mungkin kamu sudah tak asing dengan beragam ungkapan teman, saudara, atau bahkan diri sendiri tentang sulitnya melupakan kenangan masa lalu. Dalam dunia psikologi, nostalgia alias mengenang masa lalu memang memiliki dua tipe. Pertama, nostalgia yang mendorong pada ketahanan atau pertumbuhan personal, dan nostalgia yang dapat menjerumuskan pada perasaan obsesif ingin melarikan diri dari kondisi saat ini.

Betapa berartinya nostalgia bagi manusia pun kerap digaungkan dalam budaya pop, seperti lewat lagu atau film. Misalnya saja, dalam lagu bertajuk “Time Was” yang dipopulerkan Phil Ochs atau “When You’re Gone” oleh Avril Lavigne serta film semisal, P.S I Love You dan Collateral Beauty .

Dalam hidup, perubahan adalah keniscayaan di mana transformasi diolah bertahap untuk masuk ke dalam tiap aspek dunia kita, dari mulai pertumbuhan fisik hingga ragam kemampuan di dalamnya. Kebaruan, di sisi lain, merupakan penawar terhadap kejenuhan, stagnasi, maupun kondisi terlalu nyaman karena segala hal sudah terpenuhi.

Namun, tak bisa dimungkiri juga, bahwa banyak orang menginginkan stabilitas. Perubahan kerap dianggap sebagai ancaman. Stres bisa muncul menghadapi perubahan yang ekstrem atau tak diharapkan, meski manusia memiliki kemampuan untuk mengontrol situasi tergantung dari prediksi yang sebetulnya bisa dijelaskan.

Nostalgia bisa menjadi manis atau pahit dikenang. Menjadi manis karena kita mengingat saat-saat di mana kita merasakan hidup atau momentum yang bahagia dan menyenangkan, dan menjadi pahit karena kita menyadari bahwa masa-masa itu tidak akan pernah kembali.

nostalgia
sumber: pixabay

Menghadapi instabilitas, pikiran kita cenderung akan meningat kenangan positif di masa lalu. Dahulu, para ahli sempat berpendapat, bahwa nostalgia merupakan hal buruk untuk menghadapi ketidakpastian, stres, maupun ketidakbahagiaan. Tahun 1985, seorang psikoanalis Roderick Peters menjelaskan nostalgia ekstrem, seperti “debilitative” (melemahkan),sesuatu yang dapat menganggu upaya individu untuk mengatasi persoalan saat ini,”.

Namun, riset kontemporer, termasuk studi yang dilakukan Krystine Batcho, seorang profesor psikologi di Le Moyne College justru memiliki pandangan yang kontradiktif. Misalnya saja, studi tahun 2015 menunjukkan bahwa romantisasi nostalgia mamiliki kekuatan menstabilkan diri. Cara itu dapat menguatkan nalar kontinuitas personal, mengingatkan bahwa kita masih punya simpanan kenangan yang menguatkan serta terjalin dengan identitas kita.

Sebut saja, seorang pemuda yang tumbuh menjadi pemain baseball dan kerap nostalgia mendengarkan cerita dari kakeknya sewaktu kecil, toh ia masih menjadi orang yang sama hingga kini.

Riset yang juga pernah dilakukan Krystine tahun 1998 menunjukkan bahwa bernostalgia cenderung membuat kita fokus pada hubungan, di mana berpeluang mendatangkan kenyamanan kala menghadapi stres dan saat-saat rumit. Ia menemukan, mengingat bahwa kita pernah mendapat limpahan cinta semasa kecil malah dapat meyakinkan diri kita saat ini.

Kenangan itu justru akan memberi kita energi untuk berani menghadapi rasa takut, risiko, atau tantangan. Ketimbang membuat kita terjebak di masa lalu, nostalgia justru dapat membebaskan kita dari kesengsaraan dengan berupaya menumbuhkan kualitas personal.

Tak hanya itu, nostalgia semestinya dapat mengatasi rasa sengsara dan mendorong kita untuk mencari bantuan secara emosional, nasihat dari orang lain untuk menyelesaikan masalah. Pada akhirnya, ketika kita fokus pada pengalaman hidup, berupaya untuk mengingat simpanan kenangan bahagia,-nostalgia adalah alat yang berguna. Inilah cara untuk mengenang masa lalu, menghadapi perubahan sekaligus menciptakan harapan untuk masa depan.

So, nggak perlu takut lagi terjebak nostalgia yah? 🙂

Sumber: Independent (This article was originally published on The Conversation (www.theconversation.com)

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

error: Content is protected !!
WhatsApp chat