Esteem & BelongingUang dan Menikah: Apa Pentingnya Merencanakan Sedini Mungkin? - Sagu Hati

March 3, 20200
uang
sumber: focusonthefamily

Ngomongin masalah uang memang nggak ada habisnya. Bahkan, bisa dibilang hampir sebagian besar sumber permasalahan dan pertikaian di dunia ini dipicu oleh uang. Pun yang terjadi dalam kehidupan pernikahan. Data Dirjen Peradilan Agama Mahkamah Agung RI mencatat, bahwa masalah ekonomi menjadi salah satu penyebab utama perceraian (Lokadata, 2019).

Masih mengutip sumber yang sama, psikolog klinis Arrundina Puspita Dewi mengatakan, faktor ekonomi ini tidak hanya karena suami tidak mampu memenuhi kebutuhan rumah tangga, tetapi juga karena penghasilan istri lebih besar. Hal ini membuat suami merasa inferior. Sedangkan, data yang dikutip dari American Sosiological Review menyebut, bahwa suami yang tidak bekerja juga meningkatkan peluang perceraian hingga 30 persen.

Kita mungkin masih ingat dengan cuitan seorang selebtwit yang sempat viral beberapa waktu lalu, saat ia secara terang-terangan mensyaratkan calon suami mapan berpenghasilan minimal 30 juta sebulan. Bukan tak mungkin bahwa di luar sana banyak perempuan punya mimpi  sama yang nantinya berpotensi menimbulkan kesenjangan dalam hubungan.

Pernikahan tentu saja menjadi fase baru bagi setiap orang, karena akan mengubah situasi finansial yang memengaruhi berbagai aspek kehidupan. Hal-hal terkait tujuan menabung, investasi, bahkan utang kartu kredit pun bisa membawa tantangan baru dalam hubungan jangka panjang. Memasuki fase baru sama dengan mengelola keuangan personal dengan cara baru.

Mengelola keuangan yang tepat mungkin memang ranahnya para konsultan, tapi beberapa tips di bawah ini mungkin bisa jadi pertimbangan awal:

Kepemilikan pre-marital

Hal yang satu ini pastinya kerap menjadi saran para konsultan bagi pasangan yang mau menikah. Ya, terbuka mengenai kondisi keuangan masing-masing dari mulai penghasilan, tabungan/aset, asuransi, investasi, sampai utang. Meski banyak orang menganggap tabu, cara ini sangat berguna untuk menghindari perselisihan (ahli waris/anak cucu) di masa mendatang apabila terjadi risiko, seperti cerai atau salah satu pasangan meninggal dunia.  Isu penting lainnya adalah terkait partisipasi atau kepemilikan bisnis keluarga (bila ada). Aspek-aspek detil semacam ini biasanya akan tertuang dalam prenup agreement alias perjanjian pra nikah.

Pisah atau gabung rekening?

Para konsultan akan banyak menyarankan untuk punya kombinasi keduanya. Rekening gabungan tentu harus digunakan untuk kebutuhan rumah tangga sehari-hari, seperti membayar sewa/cicilan properti bersama, listrik, air, belanja makanan, biaya pendidikan anak, dan lainnya. Baik suami atau istri bisa menambahkan dana ke rekening gabungan ini. Sementara, rekening pribadi bisa digunakan untuk kebutuhan yang lebih personal/hobi. Dengan demikian, akan lebih mudah memonitor dan menelusuri ragam pengeluaran demi mencapai tujuan finansial yang diharapkan.

Merencanakan masa pensiun

Karena menikah adalah sekali seumur hidup, tentu penting untuk memikirkan rencana setelah masuk masa pensiun. Apalagi, generasi milenial banyak bercita-cita ingin pensiun muda dan bebas finansial J Jangan sampai ketika sudah tidak ada penghasilan rutin tiap bulan, lalu malah membebani kehidupan anak cucu di masa mendatang yang berujung pada sandwich generation.  Maka, dengan perencanaan yang tepat, kita bisa membangun keluarga yang kuat (sakinah, mawardah, warrahmah). Bukan begitu? 🙂

 

Sumber: Lokadata/Thebalance/sobelcollc

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

error: Content is protected !!
WhatsApp chat